Pages - Menu

Senin

JODOH: ditangan Siapa?


Hadi Wahono


Kita sering mendengar pernyataan orang yang bercerai, yang beralasan bahwa perceraian mereka karena mereka tidak berjodoh, mungkin ini sudah kehendak yang Diatas, yang artinya kehendak Tuhan. Atau pernyataan, dia bukan jodoh saya, karena itu kami bercerai, dan sebagainya, seolah-olah setiap orang telah ada jodohnya masing-masing. Pernyataan tentang jodoh yang hampir selalu kita dengar adalah, bahwa jodoh ditangan Tuhan.
Orang Kristen sering mendasarkan pernyataan demikian dari potongan Firman Tuhan yang terdapat dalam Matius 19: 6 yang berbunyi demikian: Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Potongan firman ini seolah-olah menyatakan bahwa isteri atau suami kita adalah jodoh kita yang telah ditentukan oleh Tuhan.
Kalau kita hanya membaca potongan ayat 6 tersebut memang bisa (walaupun bisa juga tidak) diartikan demikian. Tetapi kalau kita membaca ayat 6 tersebut selengkapnya, atau lebih baik lagi kalau kita membaca dari ayat 4 nya, maka akan tampak makna kalimat tersebut yang sesungguhnya. Untuk jelasnya, pasal 19 ayat 4 - 6 tersebut kami kutip disini:
4. Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
5. Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
6. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Dari ketiga ayat tersebut nampak jelas, bahwa Tuhan menciptakan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan (bukan si A berjodoh dengan si B). Kemudian, laki-laki bersatu dengan isterinya, setelah dia meninggalkan ayah dan ibunya. Sebelumnya mereka belum bersatu, dan belum dipersatukan. Karena mereka bersatu, mereka menjadi satu daging. Menjadinya satu daging adalah karena kehendak mereka untuk bersatu, dengan meninggalkan ayah dan ibunya. Karena itu, mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Artinya, sebelumnya mereka dua, baru ketika mereka bersatu, mereka menjadi satu daging. Ketika mereka telah menjadi satu, dan diersatukan oleh Tuhan, maka tidak boleh lagi diceraikan oleh manusia.
Kalau sepasang laki-laki dan perempuan sebelum pernikahan sudah dipersatukan Tuhan, maka upacara pemberkatan nikah menjadi tidak ada gunanya, toh mereka sudah dipersatukan Tuhan, lalu, apa hak pendeta menikahkan mereka? Apakah pendeta tidak tahu bahwa mereka telah dipersatukan Tuhan? Kalau tahu, mengapa mereka melakukan upacara yang sia-sia? Kalau sebelum pernikahan laki-laki dan perempuan telah dipersatukan Tuhan, yang berarti mereka telah menjadi satu daging dan tidak boleh diceraikan manusia, maka sebelum dilakukannya upacara pernikahan, kalau terjadi hubungan seksual diantara mereka, maka berarti tidak ada perjinahan, karena mereka telah dipersatukan Tuhan, yang berarti telah menjadi satu daging.
Kalau seorang laki-laki dan perempuan yang melakukan upacara pernikahan telah dipersatukan Tuhan, maka tidak lagi diperlukan pernyataan: saya menerima si A sebagai isteri/suami saya, baik dalam suka maupun duka. Buat apa kita harus membuat pernyataan demikian? Kalau memang sudah dipersatukan Tuhan apakah kita bisa menolaknya? Apakah kita tidak dengan sendirinya harus mau menerima (tidak secara suka rela, tetapi dengan paksaan, karena sudah kehendak Tuhan) si A sebagai isteri atau suami kita baik dalam suka maupun duka?
Dari alasan sebagaimana diungkapkan diatas, maka pernyataan bahwa jodoh ditangan Tuhan adalah ungkapan yang tidak benar, yang hanya ingin lari dari tanggung jawab ketika kita mengalami masalah perceraian dengan isteri kita, karena bisa digunakan sebagai alasan: karena bukan jodoh saya. Dengan ungkapan jodoh ditangan Tuhan, maka kalau terjadi perceraian sebagai akibat (hanya alasan) bahwa suami atau isteri kita bukan jodoh kita, sesungguhnya kita telah menjadikan Tuhan sebagai tong sampah, tempat membuang segala kesalahan kita.
Lalu, siapa yang menentukan jodoh kita? Atas pertanyaan ini, jawaban saya adalah, kita sendiri. Kitalah yang memilih pasangan hidup kita. Kita yang menentukan, apakah kita bersedia menerima pasangan kita sebagai pasangan hidup kita baik dalam keadaan suka maupun duka. Karena kita sendiri yang memilih dan menentukan pilihan jodoh kita, maka kita harus membuat pernyataan didepan altar, bahwa kita bersedia dengan kesungguhan hati untuk menerima si A sebagai pasangan kita baik dalam suka maupun duka.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan bunyi potongan Matius 19 ayat 6 yang menyatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia? Kapan Allah mempersatukan kita dengan pasangan kita? Buat saya, jawabannya adalah bahwa Allah mempersatukan kita dengan pasangan kita ketika pernikahan kita diberkati oleh pendeta didepan altar, dimana kita berjanji akan menerima pasangan kita sebagai isteri atau suami baik dalam suka maupun duka. Saat itulah kita dipersatukan Tuhan, karena itu, setelah peristiwa pemberkatan tersebut, kita sudah tidak boleh lagi menceraikan pasangan kita. Itulah makna firman: "Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Karena itu, kalau kita mengalami permasalahan dengan pasangan kita, maka kita sendirilah yang bersalah. Kita sendirilah yang bertanggung jawab. Kita tidak bisa melemparkan kesalahan pada Tuhan, dengan menyatakan itu sudah kehendak yang diatas, karena dia bukan jodoh saya.

Tidak ada komentar: